| Administrator

Card Image

RSUD RAA Soewondo – Pati (16 Mei 2024). Komite Keperawatan Rumah Sakit Soewondo Pati mengadakan acara Rabu Berilmu yang membahas tentang mengenali dan bagaimana penatalaksanaan perdarahan pasca salin. Acara tersebut diadakan di Ruang Dokter RSUD Soewondo Pati pada hari Kamis, 16 Mei 2024 dimana dr. Aji Patriajati, Sp. OG sebagai narasumbernya. Adapun dr. Slamet dan Bu Hesti yang turut memberikan sambutan untuk mengawali acara tersebut.

Perdarahan post-partum merupakan perdarahan yang lebih dari 500ml setelah bayi lahir pada persalinan pervaginam / 1000ml SC. Etiologi pada perdarahan post-partum sendiri terbagi menjadi 4, yaitu Tone (atonia uteri), Trauma (laserasi jalan lahir), Tissue (plasenta restan, jendalan darah), dan Thrombin (koagulopati). Faktor-faktor risiko pada perdarahan post-partum diantaranya yaitu faktor antepartum (solusio plasenta, plasenta previa, preeclampsia/eklampsia, overdistended uterus, riwayat perdarahan post-partum, dan kelainan darah), faktor intrapartum (persalinan tindakan, partus lama, partus presipitatus, persalinan dengan induksi/perbaikan his, infeksi, distosia bahu, tindakan versi/ekstraksi janin, HELLP Syndrome, DIC), dan faktor postpartum (laserasi jalan lahir, retensio plasenta, plasenta restan, inversi uteri, dan DIC).

Atonia uteri merupakan kegagalan / ketidakmampuan uterus untuk berkontraksi sebagaimana mestinya setelah plasenta lahir. Penyebab terjadinya atonia uteri adalah karena partus lama, pembesaran uterus berlebihan, multiparitas, anestesi yang dalam, dan salah penanganan kala III.

Retentio plasenta merupakan plasenta yang belum lahir lebih dari 30 menit, dimana plasenta tersebut belum lepas atau sudah lepas tetapi belum lahir. Terdapat 3 penyebab yang mengakibatkan terjadinya retentio plasenta, yaitu inkarserata (plasenta sudah lepas, tetapi ada lingkaran konstriksi di bagian bawah uterus sehingga menghalangi keluarnya plasenta), adhesiva (kontraksi kurang kuat untuk melepaskan plasenta), akreta – inkreta – perkreta (vili korialis menembus desidua – miometrium – sampai di bawah peritoneum).

Plasenta akreta merupakan abnormalitas dari implantasi plasenta pada dinding uterus, dimana perkembangan nitabuch layer tak sempurna dan desidua basalis tidak terbentuk. Penyebabnya antara lain plasenta previa, riwayat SC sebelumnya, riwayat kuret, dan multigravida.

Dalam kasus perdarahan post-partum ini, diperlukan kerjasama tim yang baik. Untuk itu, dokter dan perawat harus menjaga kekompakan dan fokus pada tugas masing-masing ketika menangani pasien. Jika tim tidak dapat menjaga kerjasama dan kekompakan dengan baik, maka dapat membahayakan nyawa pasien.