Hernia Jangan Dianggap Sepele

Oleh : admin | Pada : Selasa, 12 Januari 2016 | Dibaca : 2711 kali

Hernia merupakan penyakit yang sering ditemukan dimasyarakat. Penyakit ini ditandai dengan adanya penonjolan isi perut melalui bagian dinding perut yang lemah, kelainan ini terutama ditemukan di daerah lipat paha. Hernia bisa terjadi disemua umur, juga banyak pada usia produkif, sehingga mempunyai dampak sosial ekonomi yang cukup signifikan, oleh karena iu penanganan penyakit hernia yang efektif dan efisien sangat diperlukan. Demikian dikatakan Dr. Barlian Sutedja, SpB Direktur Utama RS Gading Pluit kepada wartawan pada acara Scientific Symposium and Live Demonstration Recent Advances in Hernia Management" yang diselenggarakan di RS Gading Pluit Jakarta belum lama ini (19 Juli).

Turut bicara dalam acara tersebut Dr. Andy Maleachi, Sp.B-KBD, dan acara ini didukung oleh pakar-pakar dari luar negeri untuk membagi pengalaman mereka kepada dokter-dokter di Indonesia yaitu Afred Allen E. Buenafe MD dari Philippine dan Davide Lomanto, MD, Ph.D dari Singapore.

Dr. Barlian mengatakan, untuk menyediakan forum professional untuk penukaran informasi, pendidikan dan pelatihan bagi dokter-dokter bedah Indonesia yang menangani penyakit hernia, maka didirikan organisasi seminat dokter-dokter bedah yang disebut Perhimpunan Hernia Indonesia. Hal ini bertujuan untuk pengembangan pelayanan bedah pada umumnya dan bedah hernia khususnya kepada masyarakat luas sesuai dengan program pemerintah acara symposium dan live demo dengan tema "Recent Advances in Hernia Manageent" yang diadakan di RS Gading Pluit. Ini adalah merupakan kegiatan pertama dari Perhimpunan Hernia Indonesia, bekerjasama dengan RS Gading Pluit dalam rangka hari Ulang Tahun RS Gading Pluit ke-3.

Sementara itu Dr. Errawan B Wiradisuria, Sp.B-KBD Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestrif menambahkan, bahwa berdirinya Perhimpunan Hernia Indonesia, karena selama ini hernia dianggap sepele hanya kecil saja, tetapi ternyata setelah digali lebih dalam lebih banyak masalah, dan pengembangannnya masih dimungkinkan lebih luas lagi.

Oleh karena itu menurut Errawan, pertama, perlu dipikirkan bersama bagaimana pengembangan secara teknologi dan menjadi suatu pelayanan yang baik dan cukup ekonomis bagi masyarakat. "Jadi ada dua sisi seperti pisau bermata dua, satu pihak bagaimana cara melayani pasien lebih baik dengan teknologi yang lebih canggih dan sederhana tetapi ekonomis," ujar Errawan.

Kedua, kata Errawan, bagaimana mengembangkan dari segi keilmuan, yaitu mengikuti teknologi yang sudah maju baik di dalam dan luar negeri. "Saya kira kita harus terus mengikuti keilmuan supaya tidak seperti katak dibawah tempurung. Oleh karena itu seorang ahli bedah mengikuti keilmuan terus menerus berkesinambungan," ujar Dr. Errawan Wiradisuria.

Dr. Errawan mengatakan, nama penyakit ini berasal dari bahasa Latin, herniae, yang berarti penonjolan isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah (defek) pada dinding rongga itu. Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus.

Hernia dibedakan atas beberapa jenis. Penamaannya disesuaikan menurut letaknya. Hernia inguinalis adalah hernia yang terjadi di lipat paha. Jenis ini merupakan yang tersering dan dikenal dengan istilah turun berok atau burut. Bila terjadi di paha disebut hernia femoralis, di pusar dinamai hernia umbilikalis, dan di sekat rongga badan dijuluki hernia diafragmatika.

Selain itu, ada jenis hernia insisional, yakni yang terjadi setelah suatu pembedahan. Karena setelah pembedahan biasanya kekuatan jaringan tidak seratus persen kembali seperti semula, daerah itu kemudian menjadi lemah dan dapat mengalami hernia.
Menurut Dr. H Hermansyur Kartowisastro, Sp.BD, masyarakat awam menyangka, hernia merupakan gangguan kesehatan hanya pada kalangan setengah tua atau usia lanjut.

Padahal, sebenarnya hernia dapat juga terjadi pada anak-anak. Ia juga lebih sering dialami laki-laki ketimbang perempuan. Ini terjadi karena adanya perbedaan proses perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Pada janin laki-laki, testis (buah pelir) turun dari rongga perut menuju skrotum (kantung kemaluan) pada bulan ketujuh hingga kedelapan usia kehamilan. Lubang yang berupa saluran itu akan menutup menjelang kelahiran atau sebelum anak mencapai usia satu tahun. Ketika dewasa, daerah itu dapat menjadi titik lemah yang potensial mengalami hernia.

Penderitanya sering mengeluhkan adanya benjolan yang tidak nyeri namun cukup mengganggu. Seberapa jauh mengganggunya, tergantung seberapa besar penonjolannya. Penonjolan muncul karena adanya kelemahan anatomis pada otot dinding perut menimbulkan penonjolan di tempat yang lemah tadi. Kondisi menjadi lebih parah bila ada dorongan akibat peningkatan tekanan di dalam rongga perut. Misalnya, akibat mengejan ketika buang air, batuk-batuk, atau mengangkat beban berat.

"Di Indonesia pasien hernia sering kali datang dalam keadaan terlambat, karena banyak orang tidak mengetahui, mungkin juga biayanya mahal. Padahal itu merupakan yang upnormal saja. Upnormal bukan karena suatu organic disease tetapi suatu kelainan anatomi, bukan organ yang upnormal, tetapi anatomi ada lobang yang besar, sehingga dia menonjol. Oleh karena adanya perubahan anatomi ditubuh maka salah satunya jalan harus dilakukan pengobatan dengan bedah," ujar Dr. Hermansyur.

Menurut Dr. Berlian Sutedja, DSB, bahwa Hernia pada orang dewasa sebaiknya ditangani sedini mungkin. Bila didiamkan dan bertambah parah, nyawa bisa jadi taruhannya.

"Terapinya tak ada jalan lain, kecuali operasi," Dr. Barlian menegaskan. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan. Karena penyebabnya keadaan anatomi yang melemah atau mengalami kelainan, pembedahan memang menjadi satu-satunya terapi.

Pembedahan untuk menangani hernia ini termasuk tindakan bedah yang sering dilakukan. "Operasi penderita hernia merupakan tindakan bedah kedua tersering setelah operasi usus buntu (apendisitis)," ujar Dr. Barlian.

Pada orang dewasa, pembedahan dilakukan untuk menutup lubang dan memperkuat bagian yang lemah. Otot perut dirapatkan menutupi lubang yang ada. Pada zaman baheula, operasi dilakukan dengan menempatkan penderita dalam "posisi Trendelenburg" (kepala di bawah) agar isi hernia masuk kembali ke rongga perut oleh gaya gravitasi Bumi.

Pembedahan dapat dilakukan terencana, tidak harus segera. Khusus untuk hernia inkarserata dan strangulata, tindakan operasi harus segera dilakukan. Bila tidak, bagian isi hernia yang terjepit lalu membusuk dan bisa menjadi sumber infeksi ke seluruh dinding usus (peritonitis). Akibat yang lebih buruk adalah kematian bagi penderitanya.

Setelah operasi, semuanya jadi beres? Belum tentu. Penderita biasanya masih mengeluh soal lain. Setelah operasi ia merasakan bagian yang dioperasi seperti tertarik dan nyeri.

Untuk mengatasi keluhan tadi, kini tersedia jala sintetis yang dikenal dengan mesh. Penggunaannya menguntungkan bagi penderita pascaoperasi, karena otot perutnya tidak lagi ditarik, sehingga penderita tidak akan merasa nyeri.

Selain tindakan bedah konvensional, kini juga ada terapi dengan teknik bedah laparoskopi. Keuntungan teknik ini antara lain, luka operasinya kecil sehingga penyembuhannya pun lebih cepat. Namun, teknik ini lebih rumit dan lebih mahal. Celakanya, hasil yang diperoleh dinilai tidak begitu maksimal, sehingga para dokter lebih memilih teknik biasa.

Jala Sintesis itu bermacam-macam. Dari jala yang keras, tebal terus berkembang sekarang menjadi jala yang kecil dan tipis tetapi sama-sama kuatnya, dan sekarang berkembang lagi jalanya itu bisa nempel sendiri. Tidak perlu dijahit, kalau dijahit kadang-kadang saraf ikut terjahit jadinya sakit setelah operasi, atau kesemutan, tidak ada rasa.

"Mesh yang sekarang sedang diproduksi dan dipasarkan, dalam waktu singkat di Indonesia juga akan dapat., bisa nempel sendiri. Jadi kalau sudah dipasang tidak berubah. Kenapa itu kita butuh, karena sering kali timbul ulangnya suatu hernia, karena pasangnya mesh situ yang tidak tepat.
Jadi lubangnya disini, nanti kalau pasiennya bangun dari operasi tau-tau karena batuk, sehingga bergeser sedikit, maka timbullah dipinggirnya itu. Makanya alat itu sangat berarti bagi kita, hal-hal dalam perkembangan demikian, apapun yang bisa mengurangai rasa sakit, apa pun yang bisa mengurangi kekambuhan, itu akan mengurangi pengeluaran orang tersebut di keluarga. Kita lihat saja angka kejadian di dunia ini sangat tinggi, perbandingannya 1 diantara 3000 orang, dalam seumur hidupnya kemungkinan bisa terjadi hernia.

Faktor-faktor risiko bagi penyakit hernia adalah keadaan yang boleh menyebabkan tekanan dalam rongga badan bertambah dan kelemahan otot dinding rongga. Diantaranya, obesitas, usia yang lanjut di mana otot dinding rongga menjadi lemah disebabkan proses degenerasi, hernia Umbilical pada orang dewasa wanita yang beranak ramai, orang yang menghidapsirosis hati, Ascites dan penyakit paru-paru seperti lelah, mngalami kesusahan untuk membuang air besar atau konstipasi, batuk kronik dan mengangkat berat dan memberikan tekanan pada rongga abdomen yang lemah seperti pada daerah trigonom hekselba serta sejarah keluarga bagi hernia merupakan faktor-faktor yang sering meninggikan risiko menghidapi penyakit hernia.

Pencegahan, berhenti merokok, jika sukar membuang air, segera berobat, menurunkan berat badan, mengangkat beban berat dengan teknik yang betul, banyak makanan yang mengandungi serat tinggi seperti sayur-sayuran dan bersenam.

OLEH : Ikatan Dokter Indonesia